Bali 25 – 27 October 2011
Finally
Risma menginjakan kaki kembali di kota Denpasar, Bali. Terakhir ke Bali pada
saat kelas 2 SMIP dalam rangka study tour kira-kira hampir 4 tahun ahahahahah.
Kali ini pergi ke Bali berdua saja dengan Nyokap.
Harga
tiket pesawat murah meriah hanya IDR 70.000 per orang untuk tiket pulang pergi.
Pergi dengan first flight dan pulang ke Jakarta untuk penerbangan jam 18.00
dengan bagasi 15 kg untuk perjalanan Denpasar – Jakarta . Tiket pesawat yang telah
dapat tentu saja tidak menggunakan maskapai sekelas Lion Air, Batavia atau
Sriwijaya, Garuda jangan diharap ya, tetapi menggunakan low coast carrier Air
Asia. My Favorite flight.
Tiket
yang sudah dipesan kira – kira dari 1 tahun sebelum keberangkatan. Risma
berangkat untuk tanggal 25-27 October 2011, itu tiket sudah dipesan dari bulan
April 2010, lama banget kan ahahah, ya prinsip liburan Risma: buat apa jalan –
jalan dengan harga mahal, kalau bisa jalan – jalan dengan harga murah alias
backpacker. Bukannya pelit tapi menikmati liburan, sisa uangnya bisa buat
belanja dan cari pengindapan ahahaha. Selain itu percuma Risma kerja di Travel
Agent kalau gak bisa mengetahui jahe alias jalan – jalan hemat hohoho.
Mari
kita mulai perjalanan.
25 Oktober 2011 Jakarta – Denpasar (Kuta,
Tanah Lot, Sanur)
Tepat
pukul 04.00 Pagi, setelah bangun tidur dan gak lupa sholat, sebagai seorang
muslim, kalau pergi ketempat yang jauh harus berdoa dulu ahahah. Kita berdua
langsung ngacir ke Airport Soekarno Hatta. Rumah Risma dibilangan Hayam Wuruk,
Gajah Mada. Perjalanan ke Airport dipagi hari yang buta hanya ditempuh dalam
waktu setengah jam, bandingkan kalau jalan dijam sibuk, jangan harap bisa tiba
secepat itu ckckckck. Ongkos taksi kira – kira IDR 80.000 udah termasuk biaya
2x toll (IDR 5.500/tol).
Berhubung
Air Asia terletak di terminal 3, taksi yang ditumpangin pun ngacir ke Terminal
3. Fyi, setelah Mandala Air bangkrut, Terminal 3 dikuasai oleh Air Asia. Air
Asia adalah satu – satunya pesawat yang mempunyai terminal sendiri, Garuda saja
masih nangkring di terminal 2F dan harus berbagi dengan Merpati untuk
penerbangan Domestik dan terminal 2D untuk penerbangan Internasional dan harus
bersaing dengan Singapore Airlines, Thai Airways dan lain – lain.
Tadinya
terminal internasional untuk penerbangan Air Asia diterminal 2D tapi entah
sejak kapan semua penerbangan Air Asia baik internasional maupun domestic semua dipindahkan ke Terminal 3.
Lanjut
lagi ke perjalanan, sejak bulan September 2011, Air Asia menetapkan biaya check
in counter sebesar IDR 40.000 baik internasional maupun domestic, ini bukan
harga airport tax tapi biaya handling ya. Kalau kita sudah melakukan check in
via online tidak akan dikenakan biaya apapun dan lebih praktis. Jadi kalau
belum melakukan self check in alias check in sendiri via website ataupun
mobile, akan dikenakan biaya handling check in sebesar IDR 40.000 dan bayar
airport tax dari Jakarta sebesar IDR 40.000.
Tips
pergi dipagi hari, untuk penerbangan dometik 2 jam sebelumnya harus sudah ada
di airport, telat dikit 1 jam bolehlah. Sementara penerbangan international 3
jam, ya tiba di bandara 2 jam lewat dikit boleh lah. Hal ini untuk menghindari
aktivitas yang sibuk di pagi hari.
Jangan
mentang – mentang penerbangan pagi akan sepi, jangan harap. Contohnya waktu
kemarin pergi pada hari Selasa, hari itu penuh banget ditambah sekelompok group
entah berantah yang punya banyak anggota tapi rupanya datang terlambat, dan
sepertinya mereka ketinggalan pesawat (siapa suruh terlambat).
DI
Terminal 3 tidak terlalu buruk, malah menurut Risma lebih bagus dari pada
Terminal 1 yang sudah seperti terminal bus. Bukannya menjelekkan tapi fakta.
Jauh banget dari kesan Bandara International. Di Terminal 3 dapat dijumpai
gerai makanan dan minuman cepat saji, dan tak lupa ada mesin penjual minuman
otomatis. Mau hot atau iced tinggal masukan uang IDR 5.000 keluar deh tuh
minuman dalam kemasan cup kecil dan imut banget.
Untuk
penerbangan pergi biasanya Air Asia on time. Perjalanan kurang lebih 2 jam.
Entah kenapa setiap pergi bareng nyokap, pasti yang selalu excited itu si
nyokap. Maklum secara nyokap belum pernah ke Bali. Bisa dibilang sejak mulai kerja,
barulah nyokap pergi kemana – mana bareng Risma. Seperti pulang kampong tahun
lalu ke Medan dan sekarang ke Bali. Makanya gak heran kalau Bokap dan adik laki – lai Risma suka ngamuk – ngamuk, karena
kalau jalan – jalan pasti cuman inget sama nyokap aja ahahah, ya wajarlah
nyokap itu orang yang paling terpenting didalam hidup.
Tiba
di bandara Ngurah Rai cuaca hari itu cerah banget. Berhubung hari itu gak
menggunakan check bagasi dan koper yang dibawa juga enteng banget kurang dari
7kg. Maka kita berdua gak perlu ngatri lama
– lama buat ambil koper. ( untuk penerbangan Air Asia tiket yang dibeli belum
termasuk bagasi, kalau mau termasuk
bagasi, untuk 15kg cukup membayar IDR 90.000/sekali jalan, kalau 20KG sekitar
IDR
120.000/sekali
jalan, info lebih lengkap klik aja ke http://www.airasia.com
)
Berhubung
hari pertama gak menggunakan jasa travel, akhirnya kita memilih naik taksi.
Sistem taksi dibandara Ngurah Rai sama
seperti di Soekarno-Hatta, tidak ada taksi yang sembarangan jadi kudu mesen dulu melalui jasa call taksi. Taksi yang
terkenal dan aman adalah taksi blue bird group, bali taksi yang bisa dipesan setelah pintu keluar
kedatangan. Berhubung karena ngajak emak – emak dan udah gak sabaran, akhirnya kita berdua naik taksi tidak
melalui jalur resmi dan diketok harganya.
Dari
Ngurah Rai Airport ke kawasan Poppies II Kuta, dikenakan harga IDR 90.000
(kalau naik taksi Resmi yang meggunakan
argo hanya dikenakan IDR 40.000) dan yang bikin tambah BETE karena ulah emak yang gak sabaran + belum dapat kamar
hotel, akhirnya kita berdua muter – muter dikawasan poppies II dan ketemu hotel Sandhu
Inn yang emang Risma udah searching dan tanya sama mbah google. Di losmen ini
ada dua kategori kamar. Kamar tidur + kipas angin dikenakan IDR 150.000
permalam sudah termasuk sarapan pagi dengan menu roti
panggang+telur+selai+tea/coffee atau indomie+telur+tea/coffee. Nah kalau kamar
termasuk AC IDR 250.000/malam dengan sarapan yang sama.
Risma
memilih kamar dengan kipas angin, hari itu hanya membayar untuk satu malam
saja, karena kita berdua berencana untuk melihat – lihat losmen yang lain.
Begitu tiba di losmen itu kita berdua menitip barang dan kebetulan kamarnya
sedang dibersihkan. Tiba dilosmen jam 10.00 pagi, dan baru diperbolehkan masuk
ke kamar sekitar jam 11.00. Maka kita langsung ngacir ke kawasan pantai kuta
untuk melihat lihat aktivitas dan berhubung perut keroncongan akhirnya kita
kabur ke mc donals untuk makan siang (jauh – jauh ke Bali, makan siang ujung –
ujungnya makan mcd ahahahah).
Waktu
menunjukkan pukul 10.30, kita memutuskan untuk balik ke losmen untuk
beristirahat, jam 11.00 kurang udah tiba ke losmen dan udah dapat kunci kamar.
Kamar dengan kipas angin memiliki fasilitas kipas angin, selimut dan handuk 2
buah + tisu gulung 1 roll masih baru, lemari pakaian dan meja. Jangan harap ada
Televisi yah ahahahah.
Setelah
beristiharat, Risma ngajakin sewa motor untuk jalan – jalan, dan akhirnya kita
putuskan untuk mengunjungi Tanah Lot dengan menggunakan motor. Biaya sewa motor
IDR 60.000 + asuransi IDR 10.000 (jadi kalau ada apa-apa sama si motor, gak
perlu khawatir) harga sewa belum termasuk isi bensin ye.
Setelah
dapat motor kita langsung ngacir menuju Tanah Lot tepat pukul 12.00, dimana
Matahari sangat cerah banget. Perjalanan menuju Tanah Lot dari Kuta memakan
waktu 1 jam dengan kecepatan 40-60km/jam. Motor yang disewa jenisnya Suzuki
matic skywave. Oh ya kalau mau sewa motor, jangan lupa minta STNK motor dan
bawa SIM, pengalaman dari mas – mas penyewa motor, polisi Bali gak jauh beda
sama polisi Jakarta, kalau tilang suka dadakan dan denda tilangnya itu WOW
(tebak sendiri ya ahahah) jadi jangan lupa bawa SIM + pakai helm. Selain itu
harus hati – hati dalam menggendarai motor, secara mobil dan motor jalannya
seperti Ferrari kenceng banget bow, yang harus diwaspadai selain itu adalah
penggendara motor bule. Para bule kalau naik motor suka kenceng – kenceng dan
seperti punya nyawa seribu, waktu kemarin naik motor kita berdua hampir di
serempet bule kampret yang naik motornya kenceng banget ckckck.
Nah
kalau untuk yang gak tau jalan gimana? Tenang aja kita berdua juga gak tau
jalan kok, jadi cara terampuh menemukan Tanah Lot adalah dengan membaca papan
petunjuk jalan dan pasti akan ketemu. Tips lain jalan menuju Tanah Lot itu
sempit banget, kanan kiri persawahan dan ada beberapa tanjakan yang tinggi dan
cukup terjang dimana kanan kiri adalah jurang, jadi kalau naik motor jangan
terlalu kencang. Tiket masuk Tanah lot untuk 2 orang + biaya parkir motor kira
– kira IDR 17.000. murah meriah.
Berhubung
waktu pergi ke Bali adalah saat bulan mati, dimana gak ada bulan terlihat di
langit, maka orang Bali menyebutnya dengan bulan mati. Tanah Lot hari itu cukup
indah, karena air laut yang biasanya pasang, tidak terlihat jadi para
pengunjung bisa berjalan menuju pura ditengah –tengah dimana terdapat mata air
suci dan ular putih. (kalau air laut pasang jangan harap bisa naik ke Pura atau
meilhat air suci). Kalau air laut pasang para pengunjung gak bisa melihat pura
yang terletak ditengah – tengah, makanya pura itu disebut pura yang terapung,
karena kalau air laut pasang, pura itu seperti pura yang terapung ditengah laut
Jalan
menuju Pura Tanah Lot adalah pasar yang menjual souvenir khas bali dengan harga
yang relative murah. Selain baju dan souvenir khas bali, dikawasan ini juga
bisa ditemukan café – café atau supermarket dan penjual kelapa hijau dan jagung
bakar mm yummy. Berhubung hari itu cukup panas, akhirnya pukul 15.00, kita
berdua memutuskan untuk balik ke Kuta.
Sewa
motor dengan durasi 10 jam, membuat Risma berputar otak, mencari jalan lain
atau kemana lagi harus melangkah ahahah. Akhirnya setelah pergi ke Tanah Lot,
perjalanan dilanjutkan ke Sanur. Sanur itu kawasan pantai juga cuman lebih
tenang dibandingkan kawasan kuta yang ramai gila, apalagi kalau sudah malam,
ramai banget, gak cocok untuk tempat mengindap para pelajar yang melakukan
study tour (waktu SMIP dulu menginap di hotel bintang 4* dijalan hang tuah).
Perjalanan
dari Tanah Lot ke Sanur memakan waktu 1 jam (kalau dari Kuta ke Sanur kira-kira
13km). DI Sanur mengunjungi Sandhu Beach, pantainya tenang bangat, gak ada
ombaknya, yang terlihat hanyalah sekelompok turis asing yang sedang asyik
berjemur dan anak – anak sekitar yang asyik berenang. Kurang lebih 1 jam,
akhirnya gue memutuskan balik ke losmen. Biaya parkir di Sanur untuk sepeda
motor IDR 2.000 dan Mobil IDR 3.000 ya gak beda jauh sama di Jakarta.
Tips
lain untuk para backpackers yang gak
bisa naik motor atau mobil gimana dong..? masa mau taksi atau sewa mobil untuk
rute dekat..? . Tenang di Bali tersedia jasa angkutan umum berbentuk warna
biru, busnya itu seperti bus transjakarta, tetapi yang membedakan tidak adanya
loket penjualan tiket di setiap halte. Kalau diBali, tiketnya dibayar saat naik
ke dalam bus, sistemnya sama seperti Bus Umum. Ongkosnya murah meriah, dari
Kuta ke Sanur dan beberapa rute hanya butuh mengocek dana sebesar IDR 2.500/sekali
jalan. Nama Busnya lupa, tapi gampag dilihat, cari aja bus yang berwarna biru,
eits tapi kalau mau naik bus ini kudu naik di halte khusus bus ini ya.
Lanjut
lagi, setelah capek jalan – jalan ke Sanur, akhirnya kita memutuskan untuk
pulang ke losmen, kisah lucu dimulai disini. Berhubung kita berdua buta arah,
gak tahu jalan di Bali, makanya kita berdua berpatok kepada papan jalan dan di
Bali itu rata – rata jalannya one way, jadi satu arah.
Pas
saat tiba dikuta, dimana seharusnya arah pulang menuju pantai kuta tetapi Risma
salah ambil jalan. Mungkin efek kepanasan, kecapean dan lain – lain, akhirnya
kita malah muter – muter di komplek hotel berbintang 4-5. Muter – muter disitu,
padahal patokan itu cuman Kuta Square, tinggal lewatin Kuta Square langsung
tembus ke Pantai Kuta.
Risma
sempat bilang sama nyokap “Mama ambil apaan tadi pas kita di Tanah Lot..?’’ dan
nyokap bilang gak ambil apa – apa. Fyi, di Bali kalau kita mengunjungi sebuah
tempat wisata, baik pantai, Pura yang diagungkan, jangan sekali – kali
mengambil atau memindahkan barang – barang yang ada disitu. Karena kalau sampai
berani macam – macam, akan ada kejadian yang kurang enak yang akan menimpah
kita. Berati efek muter - muter di
kawasan kuta karena efek kelelahan ahahahahah.
Tak
puas sudah mengunjungi pantai Kuta di Siang hari, kami berdua memutuskan untuk
berhenti dikawasan pantai Kuta untuk mengunjungi Hard Rock untuk photo stop dan
window shoppig ahahahahah dan menunggu sunset yang keren bangettttt.
Hari 2 Denpasar (Kintamani, Tampak Siring, Celuk,
Mas, Tengalanggan, Ubud)
Next
destination adalah Kintamani. Hari ini kita berdua sudah pesan sewa mobil di
Travel Agent dimana dulu Risma pernah kerja, jadi bida dapat special price
ahahahah. Harga sewa mobil untuk 10 jam termasuk BBM+ Supir IDR 450.000 – IDR 500.000
Tergantung jenis mobil yang disewa.
Hari
mobil sewaaannya merek avansa warna hitam. Kita dijemput pukul 09.00 dan
langsung ngacir ke Kintamani. Perjalanan dari Kuta – Kintamani dengan mampir –
mampir dibutuhkan waktu 3 jam. Jadi sebelum ke Kintamani, kita diajak
mengunjungi tempat kerajinan batik di Celuk, pengrajin emas di Mas dan foto
stop di Tengalanggan yang super duber keren !!! dan lihat lukisan di Ubud.
Stop
pertama itu dipengrajin Batik. Jadi disini kita bisa melihat proses pembuatan
batik dari mulai pemilihan kain, pembuatan batik dengan cangking hingga proses
akhir. Selain itu bisa dilihat proses pembuatan kain tenun khas Bali. Untuk
harga relative terjangkau, kira – kira hampir sama dengan harga di Mall. Tapi
untuk kualitas barang, lebih bagusan di Bali.
Setelah
itu mengunjungi desa Celuk yang terkenal dengan pengrajin emas, silver dan
perak. Ah ya untuk tambahan info, rata – rata di Bali itu menggunakan harga USD
secara yang datang kebanyakkan bule, namun dibeberapa toko diterapkan dua
harga. Harga International khusus untuk para wisatawan asing dan harga
Domestic untuk wisatawan local yang
diskon 50% bisa membayar dengan USD atau IDR. Nah kalau membayar dengan
menggunakan IDR, harga ratenya dari Toko. Ya lumayanlah diskon 50% kekeke.
Untuk
harga kalau desainnya simple, untuk cincin dimulai dengan harga IDR 150.000
(harga setelah dipotong diskon) dan untuk gelang atau kalung dengan harga IDR
350.000.
Lanjut
lagi ke Tenggalangan yang terkenal sebagai daerah penghasil beras. Jadi daerah
ini ada suatu kawasan khusus untuk photo stop dan tempat beristirahat. Disini
sumpah keren banget pemandangannya, luar negeri mah mana ada pemandangan sawah
– sawah yang menghijau dengan deretan sengkeda yang begitu indah, ditambah
tiupan angin yang semilir dan pohon kelapa yang ikut bergoyang, lebai ya..?
kekeke tapi sumpah keren banget. Kita berdua sampai berkali – kali menyebut
Subhanallah, KEREN !!!.
Perjalanan
dilanjutkan ke Ubud yang memang terkenal dengan pengrajin lukisan yang ajib –
ajib. Harga lukisan dimulai dari harga IDR 200.000 – sampai berjuta rupiah untu
satu lukisan. Setelah mampir – mampir, akhirnya tiba di Kintamani tepat pukul
12.00. Tiket masuk Kintamani seharga IDR
15.000/orang.
Daerah
Kintamani seperti daerah Puncak. Udaranya sejuk banget dan banyak terdapat
restaurant dengan rata – rata menu Buffet dengan sistem all you can eat. Harga
mulai dari IDR 80.000 – IDR 250.000/orang, tergantung restaurant dan view yang
dipilih. Jangan kaget dengan harga makanan yang cukup mahal, hal ini
dikarenakan menu yag ditawarkan adalah menu buffet International dan domestic
cuisine dan diitemani dengan pemandangan langsung menghadap danau Bratan dan
gunung Batur, KEREN !!!!.
Setelah
makan siang diatas gunung dan untuk makanan hari itu kita berdua menamakan
makanan MAHAL ahahahahahah. Dalam arah perjalanan pulang, mampir ke perkebunan
hasil pertanian dan argo wisata masyarakat setempat. Barang yang dijajakan
macam – macam, hingga kopi luwak. Jadi ditempat ini kita akan diajak tour
berkeliling kebun untuk melihat berbagai macam hasil argowisata hingga ketahap
pembuatan kopi luwak.
Untuk
Kopi Luwak selama ini banyak yang mengira kopi itu adalah hasil BAB Luwak. Pada
kenyataannya itu kopi adalah kopi yang terbuat dari biji Arabica dan dikasih
makan kepada Luwak.
Proses
pembuatannya, pilih biji Arabica yang sudah berwarna merah, kemudian beri makan
untuk si Luwak, tunggu hingga ia BAB. Setelah dikeluarkan biji kopi itu akan
berwarna kecoklatan, kemudian dijemur disinar matahari, dikupas dan dimasak
secara sangrai hingga kering dan tinggal ditumbuk sehingga menjadi kopi yang
siap dipasarkan.
Luwak
itu kalau siang aktifitasnya hanya bermalas – malasan alias tidur, nah kalau
malam baru deh mulai beraktifitas. Ditempat ini, setelah mengikuti tour
argowisata kita akan diberikan beberapa sample hasil kebun. Mulai dari kopi
khas Bali, vanilla, cokelat dan lainnya, kira – kira sekitar 15 cangkir.
Sementara untuk kopi luwak tidak diberikan sample (mungkin karena harga yang
mahal, ahahahahah). Kalau mau mencoba secangkir kopi luwak , cukup mengeluarkan
kocek sebesar IDR 50.000/cangkir.
Cara
menikmati kopi Luwak terbaik yaitu, pertama minumlah kopi Luwak yang belum
dicampur gula dan pemanis lainnya. Memang rasanya pahit super duper, tapi
sangat ampuh untuk mengusir rasa kantuk dan menambah energy. Setelah itu coba
meminumnya dengan dicampur gula, rasa akan beda tetapi tidak mengurasi kualitas
dari kopi tersebut.
Untuk
harga kopi Luwak, cukup mengeluarkan kocek IDR 400.000/60gr. Harga yang cukup
baik, bila dibandingkan dengan harga kopi Luwak di Jakarta yang seharga IDR
500.000 – 650.000/60gr.
Setelah
itu perjalanan dilanjutkan ke Tampak sirik dan mata air suic Tirta Empul.
Seperti dijelaskan diatas, pada saat itu adalah masa bulan mati, jadi para
penduduk Bali berbondong – bonding berdoa di pura dan mata air suci, termasuk
di Tirta Empul yang penuh dengan upacara adat. Tips berkunjung ke Pura atau
tempat mata air suci, jangan menggunakan rok atau celana pendek karena dianggap
kurang sopan.
Berhubung
Risma lupa dan menggunakan celana pendek, maka Risma disuruh menggunakan kain
panjang dan ikat pinggang khas Bali yang sudah disesuaikan.
Hari
itu Tirta Empul penuh dengan masyarakat sekitar baik yang sedang berdoa maupun
yang sedang mandi di 10 mata air yang ada disitu. Jadi menurut kepercayaan
masyarakat Bali, bila kita mempunyai hajat atau keinginan bisa mandi di sepuluh
mata air yang ada disitu atau ingin menghapus dosa dengan cara bertobat, cukup
mandi di dua mata air yang tersedia.
Nah
untuk mata air dosa, apabila kita memiliki dosa atau penyakit yang ingin
disembuhkan, bila terbukti benar, air itu akan berwarna keruh dan artinya dosa
kita banyak banget, maka harus cepat – cepat memohon mapun kepada Tuhan.
Setelah
itu kami tiba di kota Denpasar kira – kira pukul 3 sore, sebelum pulang, mampir
dulu ke pusat belanja oleh – oleh Krisna yang buka 24 jam. Harga disini mummer
alias murah meriah, beda tipis dengan pasar Sukawati untuk beberapa jenis
barang. Untuk kaos, Krisna mendesain sendiri sama dengan Joger. Tak ada
salahnya membeli oleh – oleh di Krisna, selain harga mummer, dilengkapi AC juga
dilengkapi toilet yang bersih dan musholla, jadi gak ada alasan lupa sholat
untuk yang beragama muslim bila sedang jalan – jalan kekekekek.
Setelah
menghabiskan beberapa lembar rupiah ahahahah, akhirnya kita memutuskan untuk
makan malam di daerah Denpasar. Menu makan malan itu adalah Ayam betutu Khas
Gilimanuk yang ternyata mempunyai cabang di Jakarta tepatnya di Rawamangun.
Harga Ayam Betutu yang ditawarkan dimulai dengan harga seperempat ayam (kira –
kira satu potong dada atau paha), Setengah hingga satu full ekor ayam. Selain
itu ada nasi campur khas Bali dan tentu saja sate lilit.
Harga
makanan disini berbentuk paketan yang terdiri dari ayam betutu, acar khas bali,
dan kangkung harga mulai IDR 20.000/Orang untuk ukuran seperempat ayam dan IDR
60.000/Orang untuk satu ekor ayam. Sementara sate lilit seharga IDR 2.000.
Makanan yang enak dan murah meriah.
Tiba
di hotel pukul 19.00 yang artinya masih ada cukup waktu untuk melancong
dikawasan Kuta, Legian dan sekitarnya. Setealh beritirahat dan membersihkan
diri, kami berdua memutuskan untuk mengunjungi Ground Zero atau Monument Bom
Bali yang terletak di Legian kawasan yang super sibuk dan rame gila.
Dikawasan
ini perlu diperhatikan beberapa tips. Jangan berpakaian agak seksi, terbuka
boleh, tapi jangan sampai mengubar aurat bow, hal ini akan dijadikan sasaran
empuk bahan ledekan oleh pedagang sekitar dan tentunya wisatawan asing. Selain
itu, berhubung banyak banget club malam, pub, café hingga minimarket tak heran
bila kawasan ini paling berisik dan disukai oleh wisatawan asing, apalagi om
bule – bule kekekek.
Waktu
tempuh dari tempat kami mengindap hingga ke Legian bisa ditempuh dengan berjalan
kaki dengan durasi kira – kira 15 menit. Letak tugu memori bom Bali adalah
tempat berdirinya Paddys Club yang hancur dibom dahulu kala. Kalau malam pagar
tugu memori ini ditutup, jadi fotonya gak bisa masuk sampai kedinding tugu yang
dipenuhi oleh nama – nama korban bom Bali. Jadi kita berdua foto hanya
dipelatarannya saja. Nah kalau berkunjung ketempat ini pada pagi hari hingga
sore, pintu pagar dibuka, sehingga bisa merapat hingga ke dinding tugu
tersebut.
Setelah
mengunjungi tugu peringatan, waktunya beristirahat.
Hari 3 Denpasar – Jakarta (Sukawati)
Hari
terakhir liburan di Bali. Entah kenapa setiap liburan waktu sangat singkat,
bila dibandingkan dengan hari kerja dan kuliah ahahahah. Berhubung hari itu
pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta pukul 18.00. Akhirnya diputuskan
untuk mengunjungi pasar Sukawati untuk berburu oleh – oleh.
Niat
awal sebelum check out mau lihat sunrise di Pantai Kuta, tetapi malah telat
bangun ahahaha, akhirnya tetap pergi ke pantai Kuta tepat pukul 7 pagi, Risma
membawa nyokap untuk melihat Pantai Kuta untuk yang terakhr kalinya. Tujuan
utama main air dipantai dan cuci mata ahahahaha.
Pukul
12.00 mobil jemputan sudah nangkring, akhirnya perjalanan lanjut ke Pasar
Sukawati untuk berburu oleh – oleh. Ada untungnya pergi membawa nyokap, bisa
diajak menawar harga. Sampai – sampai para pedagang geleng – geleng kepala
akibat ulah nyokap yang nawar harga miring bener ahahah. Jangankan harga barang
buat oleh – oleh, harga sewa mobil dihari terakhir aja ditawar hingga di supir
yang merangkap sebagai guide geleng – geleng kepala ahahahah.
Harga
sewa mobil untuk jalan – jalan di Pasar Sukawati hingga transfer out (diantar
ke bandara) didapat dengan harga IDR 200.000 dengan proses tawar menawar yang
dilakukan Nyokap, dimana harga normal untuk sekali antar atau jemput ke bandara
IDR 150.000/mobil, bisa dibilang emak emang hebat !!!.
Tips
belanja di Sukawati yang dilakukan nyokap adalah dengan menawar harga hingga
70% dari harga yang ditawarkan sehingga mentok – mentok bisa dapat 60-50% dari
harga yang penjual tawarkan. Harga di pasar Sukawati adalah harga termurah
untuk berbelanja souvenir, tentunya selain berbelanja di Krisna. Tips selanjutnya
jangan langsung nafsu untuk membeli barang disatu tempat, alangkah lebih baik
dan afdol bila berkeliling beberapa toko sebelum memutuskan untuk membeli
sesuatu barang yang diinginkan.
Tepat
didepan pasar Sukawati ada warung baso yang enak banget, 1 porsi baso ikan
dengan ukuran sedang hanya cukup mengeluarkan dana sebesar IDR 10.000 dan 1 porsi
soto ayam + nasi sebesar IDR 15.000/porsi.
Setelah
puas berbelanja akhirnya tiba waktunya pulang ke Jakarta, walaupun semua peswat
delay dikarenakan cuaca yang kurang bagus. Alhamdulilah dan puji Tuhan kita
berdua selamat tiba di Jakarta pada pukul 20.00 dimana seharusnya tiba pukul
18.00.
Liburan
yang cukup singkat dan dipenuhi oleh berbagai macam memori, mulai dari digetok
harga taksi, ribetnya cari pengindapan, panas – panasan naik motor ke Tanah
Lot, kesasar di Kuta, jalan malam di Legian dan Kuta, menikmati sunset di paati
Kuta hingga berburu barang – barang.
Bali
I will coming again and will make many memories in here…!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar