I like the rain, because when it rains there will be no one who knows that I'm crying

Minggu, 01 Januari 2012

Bali

Bali 25 – 27 October 2011

Finally Risma menginjakan kaki kembali di kota Denpasar, Bali. Terakhir ke Bali pada saat kelas 2 SMIP dalam rangka study tour kira-kira hampir 4 tahun ahahahahah. Kali ini pergi ke Bali berdua saja dengan Nyokap.

Harga tiket pesawat murah meriah hanya IDR 70.000 per orang untuk tiket pulang pergi. Pergi dengan first flight dan pulang ke Jakarta untuk penerbangan jam 18.00 dengan bagasi 15 kg untuk perjalanan Denpasar – Jakarta . Tiket pesawat yang telah dapat tentu saja tidak menggunakan maskapai sekelas Lion Air, Batavia atau Sriwijaya, Garuda jangan diharap ya, tetapi menggunakan low coast carrier Air Asia. My Favorite flight.

Tiket yang sudah dipesan kira – kira dari 1 tahun sebelum keberangkatan. Risma berangkat untuk tanggal 25-27 October 2011, itu tiket sudah dipesan dari bulan April 2010, lama banget kan ahahah, ya prinsip liburan Risma: buat apa jalan – jalan dengan harga mahal, kalau bisa jalan – jalan dengan harga murah alias backpacker. Bukannya pelit tapi menikmati liburan, sisa uangnya bisa buat belanja dan cari pengindapan ahahaha. Selain itu percuma Risma kerja di Travel Agent kalau gak bisa mengetahui jahe alias jalan – jalan hemat hohoho.

Mari kita mulai perjalanan.
25 Oktober 2011 Jakarta – Denpasar (Kuta, Tanah Lot, Sanur)
Tepat pukul 04.00 Pagi, setelah bangun tidur dan gak lupa sholat, sebagai seorang muslim, kalau pergi ketempat yang jauh harus berdoa dulu ahahah. Kita berdua langsung ngacir ke Airport Soekarno Hatta. Rumah Risma dibilangan Hayam Wuruk, Gajah Mada. Perjalanan ke Airport dipagi hari yang buta hanya ditempuh dalam waktu setengah jam, bandingkan kalau jalan dijam sibuk, jangan harap bisa tiba secepat itu ckckckck. Ongkos taksi kira – kira IDR 80.000 udah termasuk biaya 2x toll (IDR 5.500/tol).

Berhubung Air Asia terletak di terminal 3, taksi yang ditumpangin pun ngacir ke Terminal 3. Fyi, setelah Mandala Air bangkrut, Terminal 3 dikuasai oleh Air Asia. Air Asia adalah satu – satunya pesawat yang mempunyai terminal sendiri, Garuda saja masih nangkring di terminal 2F dan harus berbagi dengan Merpati untuk penerbangan Domestik dan terminal 2D untuk penerbangan Internasional dan harus bersaing dengan Singapore Airlines, Thai Airways dan lain – lain.
Tadinya terminal internasional untuk penerbangan Air Asia diterminal 2D tapi entah sejak kapan semua penerbangan Air Asia baik internasional maupun domestic  semua dipindahkan ke Terminal 3.

Lanjut lagi ke perjalanan, sejak bulan September 2011, Air Asia menetapkan biaya check in counter sebesar IDR 40.000 baik internasional maupun domestic, ini bukan harga airport tax tapi biaya handling ya. Kalau kita sudah melakukan check in via online tidak akan dikenakan biaya apapun dan lebih praktis. Jadi kalau belum melakukan self check in alias check in sendiri via website ataupun mobile, akan dikenakan biaya handling check in sebesar IDR 40.000 dan bayar airport tax dari Jakarta sebesar IDR 40.000.

Tips pergi dipagi hari, untuk penerbangan dometik 2 jam sebelumnya harus sudah ada di airport, telat dikit 1 jam bolehlah. Sementara penerbangan international 3 jam, ya tiba di bandara 2 jam lewat dikit boleh lah. Hal ini untuk menghindari aktivitas yang sibuk di pagi hari.
Jangan mentang – mentang penerbangan pagi akan sepi, jangan harap. Contohnya waktu kemarin pergi pada hari Selasa, hari itu penuh banget ditambah sekelompok group entah berantah yang punya banyak anggota tapi rupanya datang terlambat, dan sepertinya mereka ketinggalan pesawat (siapa suruh terlambat).

DI Terminal 3 tidak terlalu buruk, malah menurut Risma lebih bagus dari pada Terminal 1 yang sudah seperti terminal bus. Bukannya menjelekkan tapi fakta. Jauh banget dari kesan Bandara International. Di Terminal 3 dapat dijumpai gerai makanan dan minuman cepat saji, dan tak lupa ada mesin penjual minuman otomatis. Mau hot atau iced tinggal masukan uang IDR 5.000 keluar deh tuh minuman dalam kemasan cup kecil dan imut banget.

Untuk penerbangan pergi biasanya Air Asia on time. Perjalanan kurang lebih 2 jam. Entah kenapa setiap pergi bareng nyokap, pasti yang selalu excited itu si nyokap. Maklum secara nyokap belum pernah ke Bali. Bisa dibilang sejak mulai kerja, barulah nyokap pergi kemana – mana bareng Risma. Seperti pulang kampong tahun lalu ke Medan dan sekarang ke Bali. Makanya gak heran kalau Bokap dan adik  laki – lai Risma suka ngamuk – ngamuk, karena kalau jalan – jalan pasti cuman inget sama nyokap aja ahahah, ya wajarlah nyokap itu orang yang paling terpenting didalam hidup.
   
Tiba di bandara Ngurah Rai cuaca hari itu cerah banget. Berhubung hari itu gak menggunakan check bagasi dan koper yang dibawa juga enteng banget kurang dari 7kg. Maka kita berdua gak perlu ngatri  lama – lama buat ambil koper. ( untuk penerbangan Air Asia tiket yang dibeli belum termasuk bagasi,  kalau mau termasuk bagasi, untuk 15kg cukup membayar IDR 90.000/sekali jalan, kalau 20KG sekitar IDR
120.000/sekali jalan, info lebih lengkap klik aja ke http://www.airasia.com )

Berhubung hari pertama gak menggunakan jasa travel, akhirnya kita memilih naik taksi. Sistem taksi  dibandara Ngurah Rai sama seperti di Soekarno-Hatta, tidak ada taksi yang sembarangan jadi kudu  mesen dulu melalui jasa call taksi. Taksi yang terkenal dan aman adalah taksi blue bird group, bali taksi  yang bisa dipesan setelah pintu keluar kedatangan. Berhubung karena ngajak emak – emak dan udah gak  sabaran, akhirnya kita berdua naik taksi tidak melalui jalur resmi dan diketok harganya.

Dari Ngurah Rai Airport ke kawasan Poppies II Kuta, dikenakan harga IDR 90.000 (kalau naik taksi  Resmi yang meggunakan argo hanya dikenakan IDR 40.000) dan yang bikin tambah BETE karena  ulah emak yang gak sabaran + belum dapat kamar hotel, akhirnya kita berdua muter – muter  dikawasan poppies II dan ketemu hotel Sandhu Inn yang emang Risma udah searching dan tanya sama mbah google. Di losmen ini ada dua kategori kamar. Kamar tidur + kipas angin dikenakan IDR 150.000 permalam sudah termasuk sarapan pagi dengan menu roti panggang+telur+selai+tea/coffee atau indomie+telur+tea/coffee. Nah kalau kamar termasuk AC IDR 250.000/malam dengan sarapan yang sama.

Risma memilih kamar dengan kipas angin, hari itu hanya membayar untuk satu malam saja, karena kita berdua berencana untuk melihat – lihat losmen yang lain. Begitu tiba di losmen itu kita berdua menitip barang dan kebetulan kamarnya sedang dibersihkan. Tiba dilosmen jam 10.00 pagi, dan baru diperbolehkan masuk ke kamar sekitar jam 11.00. Maka kita langsung ngacir ke kawasan pantai kuta untuk melihat lihat aktivitas dan berhubung perut keroncongan akhirnya kita kabur ke mc donals untuk makan siang (jauh – jauh ke Bali, makan siang ujung – ujungnya makan mcd ahahahah).

Waktu menunjukkan pukul 10.30, kita memutuskan untuk balik ke losmen untuk beristirahat, jam 11.00 kurang udah tiba ke losmen dan udah dapat kunci kamar. Kamar dengan kipas angin memiliki fasilitas kipas angin, selimut dan handuk 2 buah + tisu gulung 1 roll masih baru, lemari pakaian dan meja. Jangan harap ada Televisi yah ahahahah.
Setelah beristiharat, Risma ngajakin sewa motor untuk jalan – jalan, dan akhirnya kita putuskan untuk mengunjungi Tanah Lot dengan menggunakan motor. Biaya sewa motor IDR 60.000 + asuransi IDR 10.000 (jadi kalau ada apa-apa sama si motor, gak perlu khawatir) harga sewa belum termasuk isi bensin ye.

Setelah dapat motor kita langsung ngacir menuju Tanah Lot tepat pukul 12.00, dimana Matahari sangat cerah banget. Perjalanan menuju Tanah Lot dari Kuta memakan waktu 1 jam dengan kecepatan 40-60km/jam. Motor yang disewa jenisnya Suzuki matic skywave. Oh ya kalau mau sewa motor, jangan lupa minta STNK motor dan bawa SIM, pengalaman dari mas – mas penyewa motor, polisi Bali gak jauh beda sama polisi Jakarta, kalau tilang suka dadakan dan denda tilangnya itu WOW (tebak sendiri ya ahahah) jadi jangan lupa bawa SIM + pakai helm. Selain itu harus hati – hati dalam menggendarai motor, secara mobil dan motor jalannya seperti Ferrari kenceng banget bow, yang harus diwaspadai selain itu adalah penggendara motor bule. Para bule kalau naik motor suka kenceng – kenceng dan seperti punya nyawa seribu, waktu kemarin naik motor kita berdua hampir di serempet bule kampret yang naik motornya kenceng banget ckckck.

Nah kalau untuk yang gak tau jalan gimana? Tenang aja kita berdua juga gak tau jalan kok, jadi cara terampuh menemukan Tanah Lot adalah dengan membaca papan petunjuk jalan dan pasti akan ketemu. Tips lain jalan menuju Tanah Lot itu sempit banget, kanan kiri persawahan dan ada beberapa tanjakan yang tinggi dan cukup terjang dimana kanan kiri adalah jurang, jadi kalau naik motor jangan terlalu kencang. Tiket masuk Tanah lot untuk 2 orang + biaya parkir motor kira – kira IDR 17.000. murah meriah.

Berhubung waktu pergi ke Bali adalah saat bulan mati, dimana gak ada bulan terlihat di langit, maka orang Bali menyebutnya dengan bulan mati. Tanah Lot hari itu cukup indah, karena air laut yang biasanya pasang, tidak terlihat jadi para pengunjung bisa berjalan menuju pura ditengah –tengah dimana terdapat mata air suci dan ular putih. (kalau air laut pasang jangan harap bisa naik ke Pura atau meilhat air suci). Kalau air laut pasang para pengunjung gak bisa melihat pura yang terletak ditengah – tengah, makanya pura itu disebut pura yang terapung, karena kalau air laut pasang, pura itu seperti pura yang terapung ditengah laut

Jalan menuju Pura Tanah Lot adalah pasar yang menjual souvenir khas bali dengan harga yang relative murah. Selain baju dan souvenir khas bali, dikawasan ini juga bisa ditemukan café – café atau supermarket dan penjual kelapa hijau dan jagung bakar mm yummy. Berhubung hari itu cukup panas, akhirnya pukul 15.00, kita berdua memutuskan untuk balik ke Kuta.

Sewa motor dengan durasi 10 jam, membuat Risma berputar otak, mencari jalan lain atau kemana lagi harus melangkah ahahah. Akhirnya setelah pergi ke Tanah Lot, perjalanan dilanjutkan ke Sanur. Sanur itu kawasan pantai juga cuman lebih tenang dibandingkan kawasan kuta yang ramai gila, apalagi kalau sudah malam, ramai banget, gak cocok untuk tempat mengindap para pelajar yang melakukan study tour (waktu SMIP dulu menginap di hotel bintang 4* dijalan hang tuah).

Perjalanan dari Tanah Lot ke Sanur memakan waktu 1 jam (kalau dari Kuta ke Sanur kira-kira 13km). DI Sanur mengunjungi Sandhu Beach, pantainya tenang bangat, gak ada ombaknya, yang terlihat hanyalah sekelompok turis asing yang sedang asyik berjemur dan anak – anak sekitar yang asyik berenang. Kurang lebih 1 jam, akhirnya gue memutuskan balik ke losmen. Biaya parkir di Sanur untuk sepeda motor IDR 2.000 dan Mobil IDR 3.000 ya gak beda jauh sama di Jakarta.


Tips lain untuk para backpackers  yang gak bisa naik motor atau mobil gimana dong..? masa mau taksi atau sewa mobil untuk rute dekat..? . Tenang di Bali tersedia jasa angkutan umum berbentuk warna biru, busnya itu seperti bus transjakarta, tetapi yang membedakan tidak adanya loket penjualan tiket di setiap halte. Kalau diBali, tiketnya dibayar saat naik ke dalam bus, sistemnya sama seperti Bus Umum. Ongkosnya murah meriah, dari Kuta ke Sanur dan beberapa rute hanya butuh mengocek dana sebesar IDR 2.500/sekali jalan. Nama Busnya lupa, tapi gampag dilihat, cari aja bus yang berwarna biru, eits tapi kalau mau naik bus ini kudu naik di halte khusus bus ini ya.

Lanjut lagi, setelah capek jalan – jalan ke Sanur, akhirnya kita memutuskan untuk pulang ke losmen, kisah lucu dimulai disini. Berhubung kita berdua buta arah, gak tahu jalan di Bali, makanya kita berdua berpatok kepada papan jalan dan di Bali itu rata – rata jalannya one way, jadi satu arah.
Pas saat tiba dikuta, dimana seharusnya arah pulang menuju pantai kuta tetapi Risma salah ambil jalan. Mungkin efek kepanasan, kecapean dan lain – lain, akhirnya kita malah muter – muter di komplek hotel berbintang 4-5. Muter – muter disitu, padahal patokan itu cuman Kuta Square, tinggal lewatin Kuta Square langsung tembus ke Pantai Kuta.

Risma sempat bilang sama nyokap “Mama ambil apaan tadi pas kita di Tanah Lot..?’’ dan nyokap bilang gak ambil apa – apa. Fyi, di Bali kalau kita mengunjungi sebuah tempat wisata, baik pantai, Pura yang diagungkan, jangan sekali – kali mengambil atau memindahkan barang – barang yang ada disitu. Karena kalau sampai berani macam – macam, akan ada kejadian yang kurang enak yang akan menimpah kita. Berati efek muter  - muter di kawasan kuta karena efek kelelahan ahahahahah.

Tak puas sudah mengunjungi pantai Kuta di Siang hari, kami berdua memutuskan untuk berhenti dikawasan pantai Kuta untuk mengunjungi Hard Rock untuk photo stop dan window shoppig ahahahahah dan menunggu sunset yang keren bangettttt.


Hari 2 Denpasar (Kintamani, Tampak Siring, Celuk, Mas, Tengalanggan, Ubud)
Next destination adalah Kintamani. Hari ini kita berdua sudah pesan sewa mobil di Travel Agent dimana dulu Risma pernah kerja, jadi bida dapat special price ahahahah. Harga sewa mobil untuk 10 jam termasuk BBM+ Supir IDR 450.000 – IDR 500.000 Tergantung jenis mobil yang disewa.

Hari mobil sewaaannya merek avansa warna hitam. Kita dijemput pukul 09.00 dan langsung ngacir ke Kintamani. Perjalanan dari Kuta – Kintamani dengan mampir – mampir dibutuhkan waktu 3 jam. Jadi sebelum ke Kintamani, kita diajak mengunjungi tempat kerajinan batik di Celuk, pengrajin emas di Mas dan foto stop di Tengalanggan yang super duber keren !!! dan lihat lukisan di Ubud.

Stop pertama itu dipengrajin Batik. Jadi disini kita bisa melihat proses pembuatan batik dari mulai pemilihan kain, pembuatan batik dengan cangking hingga proses akhir. Selain itu bisa dilihat proses pembuatan kain tenun khas Bali. Untuk harga relative terjangkau, kira – kira hampir sama dengan harga di Mall. Tapi untuk kualitas barang, lebih bagusan di Bali.

Setelah itu mengunjungi desa Celuk yang terkenal dengan pengrajin emas, silver dan perak. Ah ya untuk tambahan info, rata – rata di Bali itu menggunakan harga USD secara yang datang kebanyakkan bule, namun dibeberapa toko diterapkan dua harga. Harga International khusus untuk para wisatawan asing dan harga Domestic  untuk wisatawan local yang diskon 50% bisa membayar dengan USD atau IDR. Nah kalau membayar dengan menggunakan IDR, harga ratenya dari Toko. Ya lumayanlah diskon 50% kekeke.
Untuk harga kalau desainnya simple, untuk cincin dimulai dengan harga IDR 150.000 (harga setelah dipotong diskon) dan untuk gelang atau kalung dengan harga IDR 350.000.

Lanjut lagi ke Tenggalangan yang terkenal sebagai daerah penghasil beras. Jadi daerah ini ada suatu kawasan khusus untuk photo stop dan tempat beristirahat. Disini sumpah keren banget pemandangannya, luar negeri mah mana ada pemandangan sawah – sawah yang menghijau dengan deretan sengkeda yang begitu indah, ditambah tiupan angin yang semilir dan pohon kelapa yang ikut bergoyang, lebai ya..? kekeke tapi sumpah keren banget. Kita berdua sampai berkali – kali menyebut Subhanallah, KEREN !!!.

Perjalanan dilanjutkan ke Ubud yang memang terkenal dengan pengrajin lukisan yang ajib – ajib. Harga lukisan dimulai dari harga IDR 200.000 – sampai berjuta rupiah untu satu lukisan. Setelah mampir – mampir, akhirnya tiba di Kintamani tepat pukul 12.00. Tiket masuk Kintamani  seharga IDR 15.000/orang.

Daerah Kintamani seperti daerah Puncak. Udaranya sejuk banget dan banyak terdapat restaurant dengan rata – rata menu Buffet dengan sistem all you can eat. Harga mulai dari IDR 80.000 – IDR 250.000/orang, tergantung restaurant dan view yang dipilih. Jangan kaget dengan harga makanan yang cukup mahal, hal ini dikarenakan menu yag ditawarkan adalah menu buffet International dan domestic cuisine dan diitemani dengan pemandangan langsung menghadap danau Bratan dan gunung Batur, KEREN !!!!.

Setelah makan siang diatas gunung dan untuk makanan hari itu kita berdua menamakan makanan MAHAL ahahahahahah. Dalam arah perjalanan pulang, mampir ke perkebunan hasil pertanian dan argo wisata masyarakat setempat. Barang yang dijajakan macam – macam, hingga kopi luwak. Jadi ditempat ini kita akan diajak tour berkeliling kebun untuk melihat berbagai macam hasil argowisata hingga ketahap pembuatan kopi luwak.
Untuk Kopi Luwak selama ini banyak yang mengira kopi itu adalah hasil BAB Luwak. Pada kenyataannya itu kopi adalah kopi yang terbuat dari biji Arabica dan dikasih makan kepada Luwak.

Proses pembuatannya, pilih biji Arabica yang sudah berwarna merah, kemudian beri makan untuk si Luwak, tunggu hingga ia BAB. Setelah dikeluarkan biji kopi itu akan berwarna kecoklatan, kemudian dijemur disinar matahari, dikupas dan dimasak secara sangrai hingga kering dan tinggal ditumbuk sehingga menjadi kopi yang siap dipasarkan.

Luwak itu kalau siang aktifitasnya hanya bermalas – malasan alias tidur, nah kalau malam baru deh mulai beraktifitas. Ditempat ini, setelah mengikuti tour argowisata kita akan diberikan beberapa sample hasil kebun. Mulai dari kopi khas Bali, vanilla, cokelat dan lainnya, kira – kira sekitar 15 cangkir. Sementara untuk kopi luwak tidak diberikan sample (mungkin karena harga yang mahal, ahahahahah). Kalau mau mencoba secangkir kopi luwak , cukup mengeluarkan kocek sebesar IDR 50.000/cangkir.

Cara menikmati kopi Luwak terbaik yaitu, pertama minumlah kopi Luwak yang belum dicampur gula dan pemanis lainnya. Memang rasanya pahit super duper, tapi sangat ampuh untuk mengusir rasa kantuk dan menambah energy. Setelah itu coba meminumnya dengan dicampur gula, rasa akan beda tetapi tidak mengurasi kualitas dari kopi tersebut.

Untuk harga kopi Luwak, cukup mengeluarkan kocek IDR 400.000/60gr. Harga yang cukup baik, bila dibandingkan dengan harga kopi Luwak di Jakarta yang seharga IDR 500.000 – 650.000/60gr.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Tampak sirik dan mata air suic Tirta Empul. Seperti dijelaskan diatas, pada saat itu adalah masa bulan mati, jadi para penduduk Bali berbondong – bonding berdoa di pura dan mata air suci, termasuk di Tirta Empul yang penuh dengan upacara adat. Tips berkunjung ke Pura atau tempat mata air suci, jangan menggunakan rok atau celana pendek karena dianggap kurang sopan.
Berhubung Risma lupa dan menggunakan celana pendek, maka Risma disuruh menggunakan kain panjang dan ikat pinggang khas Bali yang sudah disesuaikan.

Hari itu Tirta Empul penuh dengan masyarakat sekitar baik yang sedang berdoa maupun yang sedang mandi di 10 mata air yang ada disitu. Jadi menurut kepercayaan masyarakat Bali, bila kita mempunyai hajat atau keinginan bisa mandi di sepuluh mata air yang ada disitu atau ingin menghapus dosa dengan cara bertobat, cukup mandi di dua mata air yang tersedia.
Nah untuk mata air dosa, apabila kita memiliki dosa atau penyakit yang ingin disembuhkan, bila terbukti benar, air itu akan berwarna keruh dan artinya dosa kita banyak banget, maka harus cepat – cepat memohon mapun kepada Tuhan.

Setelah itu kami tiba di kota Denpasar kira – kira pukul 3 sore, sebelum pulang, mampir dulu ke pusat belanja oleh – oleh Krisna yang buka 24 jam. Harga disini mummer alias murah meriah, beda tipis dengan pasar Sukawati untuk beberapa jenis barang. Untuk kaos, Krisna mendesain sendiri sama dengan Joger. Tak ada salahnya membeli oleh – oleh di Krisna, selain harga mummer, dilengkapi AC juga dilengkapi toilet yang bersih dan musholla, jadi gak ada alasan lupa sholat untuk yang beragama muslim bila sedang jalan – jalan kekekekek.

Setelah menghabiskan beberapa lembar rupiah ahahahah, akhirnya kita memutuskan untuk makan malam di daerah Denpasar. Menu makan malan itu adalah Ayam betutu Khas Gilimanuk yang ternyata mempunyai cabang di Jakarta tepatnya di Rawamangun. Harga Ayam Betutu yang ditawarkan dimulai dengan harga seperempat ayam (kira – kira satu potong dada atau paha), Setengah hingga satu full ekor ayam. Selain itu ada nasi campur khas Bali dan tentu saja sate lilit.

Harga makanan disini berbentuk paketan yang terdiri dari ayam betutu, acar khas bali, dan kangkung harga mulai IDR 20.000/Orang untuk ukuran seperempat ayam dan IDR 60.000/Orang untuk satu ekor ayam. Sementara sate lilit seharga IDR 2.000. Makanan yang enak dan murah meriah. 

Tiba di hotel pukul 19.00 yang artinya masih ada cukup waktu untuk melancong dikawasan Kuta, Legian dan sekitarnya. Setealh beritirahat dan membersihkan diri, kami berdua memutuskan untuk mengunjungi Ground Zero atau Monument Bom Bali yang terletak di Legian kawasan yang super sibuk dan rame gila.

Dikawasan ini perlu diperhatikan beberapa tips. Jangan berpakaian agak seksi, terbuka boleh, tapi jangan sampai mengubar aurat bow, hal ini akan dijadikan sasaran empuk bahan ledekan oleh pedagang sekitar dan tentunya wisatawan asing. Selain itu, berhubung banyak banget club malam, pub, café hingga minimarket tak heran bila kawasan ini paling berisik dan disukai oleh wisatawan asing, apalagi om bule – bule kekekek.

Waktu tempuh dari tempat kami mengindap hingga ke Legian bisa ditempuh dengan berjalan kaki dengan durasi kira – kira 15 menit. Letak tugu memori bom Bali adalah tempat berdirinya Paddys Club yang hancur dibom dahulu kala. Kalau malam pagar tugu memori ini ditutup, jadi fotonya gak bisa masuk sampai kedinding tugu yang dipenuhi oleh nama – nama korban bom Bali. Jadi kita berdua foto hanya dipelatarannya saja. Nah kalau berkunjung ketempat ini pada pagi hari hingga sore, pintu pagar dibuka, sehingga bisa merapat hingga ke dinding tugu tersebut.

Setelah mengunjungi tugu peringatan, waktunya beristirahat.

Hari 3 Denpasar – Jakarta (Sukawati)
Hari terakhir liburan di Bali. Entah kenapa setiap liburan waktu sangat singkat, bila dibandingkan dengan hari kerja dan kuliah ahahahah. Berhubung hari itu pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta pukul 18.00. Akhirnya diputuskan untuk mengunjungi pasar Sukawati untuk berburu oleh – oleh.

Niat awal sebelum check out mau lihat sunrise di Pantai Kuta, tetapi malah telat bangun ahahaha, akhirnya tetap pergi ke pantai Kuta tepat pukul 7 pagi, Risma membawa nyokap untuk melihat Pantai Kuta untuk yang terakhr kalinya. Tujuan utama main air dipantai dan cuci mata ahahahaha.

Pukul 12.00 mobil jemputan sudah nangkring, akhirnya perjalanan lanjut ke Pasar Sukawati untuk berburu oleh – oleh. Ada untungnya pergi membawa nyokap, bisa diajak menawar harga. Sampai – sampai para pedagang geleng – geleng kepala akibat ulah nyokap yang nawar harga miring bener ahahah. Jangankan harga barang buat oleh – oleh, harga sewa mobil dihari terakhir aja ditawar hingga di supir yang merangkap sebagai guide geleng – geleng kepala ahahahah.

Harga sewa mobil untuk jalan – jalan di Pasar Sukawati hingga transfer out (diantar ke bandara) didapat dengan harga IDR 200.000 dengan proses tawar menawar yang dilakukan Nyokap, dimana harga normal untuk sekali antar atau jemput ke bandara IDR 150.000/mobil, bisa dibilang emak emang hebat !!!.

Tips belanja di Sukawati yang dilakukan nyokap adalah dengan menawar harga hingga 70% dari harga yang ditawarkan sehingga mentok – mentok bisa dapat 60-50% dari harga yang penjual tawarkan. Harga di pasar Sukawati adalah harga termurah untuk berbelanja souvenir, tentunya selain berbelanja di Krisna. Tips selanjutnya jangan langsung nafsu untuk membeli barang disatu tempat, alangkah lebih baik dan afdol bila berkeliling beberapa toko sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu barang yang diinginkan.

Tepat didepan pasar Sukawati ada warung baso yang enak banget, 1 porsi baso ikan dengan ukuran sedang hanya cukup mengeluarkan dana sebesar IDR 10.000 dan 1 porsi soto ayam + nasi sebesar IDR 15.000/porsi.

Setelah puas berbelanja akhirnya tiba waktunya pulang ke Jakarta, walaupun semua peswat delay dikarenakan cuaca yang kurang bagus. Alhamdulilah dan puji Tuhan kita berdua selamat tiba di Jakarta pada pukul 20.00 dimana seharusnya tiba pukul 18.00.

Liburan yang cukup singkat dan dipenuhi oleh berbagai macam memori, mulai dari digetok harga taksi, ribetnya cari pengindapan, panas – panasan naik motor ke Tanah Lot, kesasar di Kuta, jalan malam di Legian dan Kuta, menikmati sunset di paati Kuta hingga berburu barang – barang.

Bali I will coming again and will make many memories in here…!!!!








Tidak ada komentar:

Posting Komentar