I like the rain, because when it rains there will be no one who knows that I'm crying

Sabtu, 18 September 2010

Pulang Kampung..


Pada hari jumat tanggal tiga September akhirnya gue bisa pulang kampong kembali setelah hampir Sembilan tahun tak pulang ke Medan. Gue sudah memesan tiket jauh – jauh hari, naik pesawat low coast carrier. Sebenarnya gue pulang bulan oktober namun sejak per satu October pesawat dengan tujuan Medan ditiadakan until further notice, jadilah penerbangan yang sudah gue rancang untuk akhir bulan oktober dimajukan ke bulan September. Parahnya bulan setember gue sama sekali tidak memegang uang sedikit pun, gaji gue sudah terpakai buat membayar uang kuliah, arisan dan lainnya. Sisa uang gue hanya tinggal seratus ribu rupah. Menyedihkan.


Gue memesan penerbangan dengan pesawat paling pagi, pukul tujuh pagi hal ini dikarenakan kampong gue jauh dari kota. Di pesawat gue menempuh waktu dua jam dari Jakarta ke Medan kemudian dari Medan ke kota Rampah tempat kelahiran bokap gue membutuhkan dua jam dengan menggunakan mobil. Makanya gue memilih penerbangan pagi hari.

Nyokap gue

Tiba di medan ternyata gue harus stay sat
u malam di rumah Pak Dek, saudara bokap gue. Gue sama nyokap gue dijemput dan harus stay satu malam dikota medan baru besoknnya tanggal empat September gue melanjutkan perjalanan kembali ke kota Rampah.

Gue berangkat ke bandara Soekarno Hatta berdua saja sama nyokap gue, bokap gue malas antarein jadilah gue hanya berdua. Ya iyalah yang pergi kan gue sama nyokap gue doang. Gue harus naik pesawat di Terminal tiga. Jujur gue belum pernah ke Terminal tiga. Kalau Terminal satu dan dua, gue sudah tahu. Kata orang sih Terminal tiga tidak kalah bagus.


terminal tiga di bandara Soekarno - Hatta

Dulunya
terminal ini digunakan untuk terminal Haji, namun sekarang dijadikan penerbangan domestic untuk pesawat Air Asia dan Mandala. Gue perhatikan Terminal tiga mirip dengan Budget Terminal yang ada di Singapore, ya mirip – mirip lah.


Gue langsung menuju ke tempat check in counter yang ternyata bisa check in all destination, walaupun loe pegagng tiket ke Denpasar contohnya, loe bisa check in di semua counter, beda halnya dengan system diterminal satu. Saat gue berada di Terminal tiga, not badlah, cukup luas dan bersih, tapi pas gue pergi ke Toiletnya ada satu kloset yang jorok banget, mungkin belum dibersihkan. Itu saja nilai minusnya.

Terminal tiga dibagi dua dan untuk ruang tunggu samalah, namun ruang tunggunya plong, tidak ada sekat sama sekali. Kalu gue perhatikan pesawat Mandala Air berada di sebelah kiri dan Air Asia disebelah kanan Dari ruang tunggu, kita harus turun dan naik bus dari masing – masing Airlines untuk menuju ke Pesawat. Hal ini letak peswat agak jauh dan tidak adanya belalai gajah atau garabarata. Jika dilihat secara lokasi tempat pesawat diparkir, letak terminal tiga dan terminal dua tidaklah jauh.
Loe bisa melihat pesawat Garuda Indonesia yang sedang parkir menunggu penumpang. Para penumpang tidak diperbolahkan berjalan di Apron atau landasan pacu. Padahal gue mau foto didepan pesawatnya hikz..hikz..


Did you know nyokap gue yang sudah lama banget gak naik pesawat, pas pertama naik ke pesawat excited banget, senang banget, gue yang melihatnya ketawa saja. Tapi pas penerbangan dimulai, nyokap gue melihat kearah bawah dari jendela pesawat yang awalnya girang banget berubah jadi diam. Ternyata nyokap gue mabok naik pesawat. Katanya sih, gara – gara lihat kearah bawah dari jendela pesawat. Gue ketawa ngakak, padahal di sebelah gue ada anak kecil yang sebenarnya tempat duduk pas disebelah gue itu kosong, anak kecil yang namanya Dinar duduk dibelakang gue, namun bangku sederetnya kosong, Cuma dia sendirian alhasil dipindahkan ke bangku di sebalah gue.


Nyokap gue yang masih excited

Dinar juga mabok, tapi dia bisa tahan, mamanya Dinar kasih dia minyak kayu putih untuk menghilangkan rasa muntah dan pening. Pas sudah mau sampai dan landing, mual nyokap gue tambah parah, gue sudah bilang dikeluarkan saja, walaupun sudah pakai minyak kayu putih tidak mempan. Nyokap gue sudah mau batalin puasa (kita pergi saat bulan puasa), dia sudah mau muntah tapi pas lihat Dinar yang tadinya mau muntah gak jadi muntah, nyokap gue jadi malu. Masa kalah sama anak kecil, akhirnya ditahan. Gue ketawa melihat tingkah nyokap gue heheheheh..

Sampai dikota Medan gue dijemput oleh saudara gue. Gila akhirnya gue bisa pukang kampong lagi. I’m happy, beneran. Terakhir gue pulang kampong saat gue berumur sepuluh tahun sekarang umur gue Sembilan belas tahun, It’s amazing. Tapi jam di Medan berbeda setengah jam dari Jakarta, maksudnya di Jakarta imsyak pukul setengah lima sore, di Medan waktu imsyak pukul lima sore dan waktu berbuka di Jakarta pukul enam sore, di Medan pukul setengah tujuh malam. Walupun beda setangah jam lebih lama tetap saja waktu lebih lama.
Saat gue tiba di Medan ada anak kakak gue(anaknya Pak Dek gue, jadi gue panggilnya kakak) namanya Dika, awalnya sih dia diam saja pas ada gue dia ngajakkin gue main PS – playstation. Gue yang memang sudah lama gak main PS, ya ikut – ikutan saja dan pas gue mulai main, gue merasa happy. I’m back to teenager again heheheh.


Saat malam hari habis buka puasa, gue pergi ke Istana Maimun dan ternyata Istananya tutup hikz..hikz.. But it’s OK yang penting gue gak penasaran dan sudah main ke Istana Maimun. Tidak jauh dari situ ada Ramadhan Festival yang berada di jalan raya dekat samping Masjid Raya Medan. Event ini seperti di Kelapa Gading yaitu Arabian Night. Banyak jajanan makanan, jualan pakaian, dan mainan dan diujung jalan ada Mall Yuki Simpang Raya Medan. Gila penuh banget dan ternyata ada Konser Dmassive yang akan diselenggarakan selepas sholat tarawih. Pas konser Dmassive dimulai penonton pada riuh dan jalanan akhirnya tidak terlalu penuh. Sebenarnya gue mau foto Masjid Raya Medan, tapi tertutup oleh tenda penjual makanan. Kalau di Arabian Night, Kelapa Gading kita harus membeli voucher yang senilai uang yang akan kita gunakan, disini kita membayar langsung ke stand – satnd makanan yang hendak kita pilih.



Gue memesan munuman kesukaan gue, cappuccino, yang lain jus jeruk dan anak dari tante gue, namanya Manda memesan jus terong belanda. Gue sih pernah denger tapi belum mencoba, saat gue coba minum, rasanya seperti jus jambu agak asam, manis gitu deh. Saudara ditempat Pak Dek gue yang di Medan banyak memiliki anak. Manda itu anak tante gue yang satu lagi, tidak serumah sama Pak Dek, juga ada Dina dan adik – adiknya. Nah kalau yang suka tingga di tempat pak Dek gue itu namanya Jihan, sementara Dika hanya siang hari saja saat orangtuanya bekerja ia dititipakn di tempat Omanya, yaitu Pak Dek.


Hari kedua di Medan akhirnya gue menginjakkan kaki gue kembaIi di tanah kelahiran Bokap gue. Memang perjalanan jauh sekitar dua jam, seperti Jakarta – Bandung, bedanya perjalanan ke desa Bokap gue jalanannya ampun DJ, rusak euy. Tapi semua itu terbayarkan karena gue sampai dan bertemu dengan kakak sepupu gue yang dulu pernah tinggal di rumah gue, dan akhirnya gue bias ketemu sama kembaran gue, Kak Timah. Dia sebenarnya anak Bu Dek gue, saat kecil dia belum bias berbicara nah as Bokap gue yang asuh dia bias bicara, akhirnya dia diangkat anak sama Bokap gue dan manggil Bokap gue dengan sebutan Bapak. Kata orang sih muka gue berdua mirip, tapi kalau gue bilang bagai pinang dibelah kampak heheheheh..



Desa kelahiran Bokap gue ini menurut gue agak pedalaman. Untuk belanja kepasarnya gue harus tempuh waktu perjalanan setengah jam dengan menggunakan motor dan pas gue Tanya tempat mo beli minuamn green the yng botolan, loe harus jalan ke kota rampahnya (desa bokap gue itu namanya Durian Rejo dan Desa Bu Dek gue namanya penjemuran. Gila gue bilang sama nyokap gue, desa Bokap gue tempat jin buang anak. Jauh kemana – mana. Pemandangan hanya sawah, kebon, pohon kelapa sawit aduh.. gue aja sampe nyari sinyal 3g buat handphone gue dan selama di desa ini gue gk bias online dan handphone gue gak dapat sinyal, Bokap gue sampai marah – marah telepon gak gue angkat dan gue gak bias dihubungi, bukan salah gue dong..



Mirip enggak..?

Selama berada di Desa kelahiran Bokap dan Desa tempat Bu Dek gue tinggal, pemandangan hanya sawah, kebon, kelapa sawit dan kalau sore hari tiba, Gila.. banyak nyamuk Men.. Memang gue akui jauh banget nih Desa seperti tempat jin buang anak jauh kemana – mana. Kalau mau ke pasar memakan waktu setengah jam dengan menggunakan motor dan saat gue mau cari minuman green the yang berebtuk botol dan mau makan bakso, loe harus pergi lagi ke kota Rampah dan memakan waktu yang bias buat elo ngantuk. Jauh kemana – mana, gue gak bias online, gak bias telepon dan adu parah..

Cuacanya panas banget. Lebih panas dari Jakarta. But bagaimanapun itu tetap kampong gue juga, tempat Bokap gue dilahirkan
Saa mau pulang ke Jakarta malam harinya gue memimpikan almarhum kakek dan nenek gue yang sudah wafat. Gue jadi sedih dan menangis. Saat gue pulang sembilan tahun yang lalu mereka berdua masih ada dan sat gue pulang selarang, mereka berdua sudah gak ada sedih gue. Kemarin itu gue gak sempat mengunjungi makam mereka dan Pak Dek, padahal gue sudah bilang dan Bu Dek mau anterin gue, tapi memang gak memungkinkan.


Kejadian lain saat mau pulang dan antarin gue ke airport, waktunya mepet banget, gue smapai kejar – kejaran sama waktu, mana jalanan macet banget. Samapi di bandara untungnya keburu tapi barang bawaan gue kelbihan sa,pai tujuh belas kilo, gue smapai marah – marah, gondok ge. Mending barang bawaannya apa gitu, ini hasil kebon Bu Dek gue buat seperti rambutan, salak yang di Jakarta juga ada. Sumpah gue gondok banget..

Tapi itu semua adalah cerita gue selama gue pulang kampung dan hidup itu banyak rasa, ada sula sedi, senang, gembira, tertawa dan menagis karena life it’s never flat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar