I like the rain, because when it rains there will be no one who knows that I'm crying

Jumat, 11 Juni 2010

My Father

My great father

Untuk informasi, aku ambil kuliah malam karena pagi harinya aku harus bekerja untuk bantuin keluargaku secara aku anak pertama dan tentunya membayar uang kuliah sendiri. Aku bukan anak orang kaya atau anak manja yang hanya minta uang dari orangtua dan malas – malasan. Aku tahu Bokapku menyekolahkan aku pas SMA mahal banget secara aku ambil SMIP alias sekolah pariwisata dan aku bersyukur sebelum lulus aku udah kerja cari uang sendiri dan itu cukup membanggakan orangtuaku.

Bokap sih mau – mau aja bayarin uang sekolah ku secara pas daftar untuk masuk kuliah aku pakai uang Bokap, tapi statusnya pinjaman alias ngutang. Jadi tiap bulan pas gajian uang ku otomatis dipotong untuk membayar utang Bokap heheheheh..

Bokap pernah bilang kalo aku mo sekolah lagi harus usaha sendiri, Bokap bilang udah gak sanggup lagi biayain aku dan mo di alihkan untuk pendidikan adikku yang seorang laki – laki. Namanya Rinaldy di panggil Aldy. Aku sama dia beda lima tahun. Aku sama Aldy kayak anjing sama kucing suka berantem, tapi pas aku pergi tour keluar kota (Sekolah SMIP kan harus keluar kota untuk belajar tentang tourism) atau pas terakhir aku liburan ke Bangkok dan Singapore ( yang ini pakai uang pribadi ya) dia malah kangen sama aku dan minta aku cepet – cepet pulang. Dasar aneh.

Aku di besarkan oleh keluarga yang sederhana, Aku pernah merasakan yang terpedih saat aku bersekolah dan Bokap berhenti bekerja dan makan hanya dengan nasi putih dan kerupuk. Aku juga pernah merasakan hidup enak, maksudnya apa yang kamu inginkan tinggal bilang dan langsung dibelikan. Tapi walaupun begitu gak semua yang aku inginkan bisa didapat dengan mudah. Hidup bagaikan roda yang terus berputar kadang dibawah kadang diatas. Dan aku bersyukur aku sudah mengalaminya, jadi gak akan kaget ketika suatu saat keluargaku terpuruk atau sedang di atas.

Aku diajarakan untuk merasakan bagaimana ketika kamu menginginkan sesuatu kamu harus bisa mendapatkannya dengan jerih payahmu alias gak menyusahkan orang lain. Misalnya ketika kamu ingin handphone atau apa pun itu kamu harus bisa mendapatkannya dengan jerih payahmu. Kalo orangtua ada uang ya bisa dibelikan tapi kalo tidak, bagaimana.?
Aku pernah merasakan ketika aku ingin punya handphone dan aku ga punya uang yang cukup dan Bokap tidak mau membelikannya dan ternyata Nenekku yang membantu, disitu aku bisa melihat Bokap sedikit kecewa karena tidak bisa membelikan aku handphone. Bokap selalu mementingkan urusan keluarga alias yang paling penting, ia bilang handphone gak penting – penting banget dan tidak mau membelikannya.

Tapi aku bisa melihat kekecewaannya. Aku bisa merasakannya ketika Bokap gak sengaja merusak handphone ku dan aku menangis karena hanphone ku mati. Aku marah, kesal dan sebal sama Bokap. Memang salahku juga taruh handphone sembarangan dan Bokap ga sengaja tidurin tuh handphone secara Bokap punya badan gede, ya mati tuh Handphone hikzz.hikzz. Aku marah, sempat gak mau ngomong sama Bokap (egois ya?) sampai akhirnya Bokap bilang bakal mengganti handpone ku dengan yang lebih bagus dan berkamera, tapi gak saat itu. Butuh waktu akhirmya aku meminta maaf dan memang benar sesuai janjinya aku dikasih uang untuk membeli handphone dan sampai saat ini handphonenya masih ada, walaupun sudah harus di museumkan hehehe tapi aku bersumpah gak akan pernah menjualnya, karena itu pemberian Bokap.

Terkadang aku bingung sama orang lain, maksudnya mereka mempunyai uang yang lebih ketimbang aku, tapi gak digunakan dengan sesuai atau melihat orang lain meminta handphone yang baru dan meminta sambil merengek – rengek atau ngambek gak mau makan kalo belum dibelikan apa yang diinginkannya. Please dech…

Terkadang aku merasa sedih dan gimana gitu. Enak banget ya tinggal minta, ngambek kalo gak dikasih tanpa perjuangan. Bersyukur banget punya Bokap yang baik banget.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar